Perjuangan Mahasiswa Disabilitas Asal Jambi Raih Gelar S2 Cumlaude

Dok. Instagram @dimasdwi_ptra

Menempuh pendidikan tinggi bukanlah perjalanan yang mudah bagi Dimas Dwi Putra. Mahasiswa penyandang disabilitas asal Jambi ini harus menghadapi berbagai tantangan sejak kecil karena hidup dengan cerebral palsy, yaitu gangguan pada sistem saraf yang mempengaruhi kemampuan bergerak dan koordinasi tubuh. 

Meski demikian, Dimas tidak pernah membiarkan keterbatasan fisik menghalangi impiannya. Dengan semangat belajar yang tinggi, ia terus melangkah hingga berhasil menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Negeri UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Ia merupakan alumni Program Studi Sejarah Peradaban Islam dan kemudian melanjutkan studi ke Program Magister Aqidah dan Filsafat Islam di kampus yang sama.

Perjalanan akademiknya tentu tidak selalu berjalan mulus. Namun, Dimas memilih untuk fokus pada kemampuan yang dimiliki daripada keterbatasan yang dihadapinya. Ketekunan, kerja keras, dan tekad untuk terus belajar membawanya meraih berbagai prestasi sekaligus membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi dan meraih cita-cita.

Bagi Dimas, pendidikan merupakan jalan untuk membuka lebih banyak peluang dan mewujudkan cita-citanya. Keyakinan itulah yang mengantarkannya melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negeri UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Namun, perjalanan selama kuliah tidak selalu berjalan mudah. Sebagai penyandang cerebral palsy, ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan mobilitas hingga akses kampus yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Aktivitas yang bagi sebagian mahasiswa terasa sederhana, seperti berpindah ruang kuliah atau mengikuti kegiatan akademik, seringkali membutuhkan usaha lebih besar.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Dimas memilih untuk tidak menyerah. Ia lebih fokus mengembangkan kemampuan yang dimiliki daripada memikirkan hambatan yang dihadapi. Semangat untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan menjadi motivasi yang membuatnya terus melangkah hingga berhasil melewati setiap tantangan selama menempuh perkuliahan.

Di balik setiap pencapaiannya, ada dukungan besar dari keluarga, terutama sang ibu yang selalu mendampingi dan memberikan semangat di setiap proses yang dijalani. Kehadiran keluarga menjadi sumber kekuatan bagi Dimas untuk terus bertahan dan melangkah, bahkan ketika harus menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan.

Selain keluarga, lingkungan kampus juga turut berperan dalam perjalanan akademiknya. Dosen memberikan ruang belajar yang mendukung, sementara teman-teman tidak ragu membantu ketika ia mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas perkuliahan. Dukungan tersebut membuat Dimas merasa diterima dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang bersama mahasiswa lainnya.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa lingkungan yang inklusif tidak hanya memberikan akses bagi penyandang disabilitas, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk belajar, berprestasi, dan mengembangkan potensi secara optimal.

Perjuangan yang dijalani Dimas selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dengan predikat cumlaude.

Semangat belajarnya tidak berhenti setelah meraih gelar sarjana. Dimas melanjutkan pendidikan ke Program Magister Aqidah dan Filsafat Islam di kampus yang sama. Meski kembali dihadapkan pada berbagai tantangan, ia tetap berkomitmen menyelesaikan studinya dengan sebaik mungkin.

Komitmen tersebut membawanya kembali meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,77. Tesis yang disusunnya menjadi bukti kesungguhan dalam mendalami bidang akademik sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan bersaing di dunia pendidikan tinggi.

Atas pencapaian tersebut, pihak kampus memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kegigihannya selama menempuh pendidikan. Bagi Dimas, keberhasilan meraih gelar magister bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya menjadi ASN di bidang pendidikan.

Setelah meraih gelar magister, Dimas memiliki cita-cita menjadi ASN di bidang pendidikan. Baginya, gelar magister bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga menjadi langkah awal untuk mengabdikan diri melalui dunia pendidikan. Ia ingin membagikan ilmu dan pengalaman yang dimiliki sekaligus membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu berkarya, berprestasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. 

Selain peluang menjadi ASN, perkembangan teknologi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya, termasuk melalui pekerjaan yang dapat dilakukan dengan sistem bekerja dari rumah, sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. 

Dimas juga berharap semakin banyak perguruan tinggi dan pemerintah menghadirkan kebijakan yang mendukung pendidikan inklusif. Menurutnya, setiap penyandang disabilitas berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi, menempuh pendidikan, dan meraih cita-cita tanpa terkendala oleh keterbatasan fisik maupun lingkungan.

Perjalanan Dimas menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Dengan tekad, kerja keras, dukungan keluarga, dan lingkungan yang inklusif, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan memberikan manfaat bagi sesama. Kisahnya sekaligus menjadi pengingat bahwa kemampuan, dedikasi, dan semangat pantang menyerah adalah hal yang seharusnya menjadi tolok ukur, bukan kondisi fisik yang dimiliki seseorang.

Referensi: https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8572724/kisah-difabel-asal-jambi-raih-gelar-s2-bermimpi-jadi-asn-tenaga-pendidik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *